Lampu Merah…..oh, no!

DSC_0892Bagi kebanyakan orang lampu merah merupakan sesuatu yang membosankan dan juga merepotkan. Bayangkan anda harus berhenti untuk kurun waktu tertentu yang jika musim panas maka anda akan kepanasan dan begitu juga sebaliknya saat musim hujan. Disamping itu, pengendara kendaraan manual akan sedikit report menangani kopling dan gigi-satu tatkala lampu merah beranjak pergi yang kemudian di gantikan oleh kuning kemudian hijau.

Disektor inilah pengendara pemula menguras pikiran dan tenaga untuk beradaptasi dengan kendaraannya sendiri dan bejubelnya pengendara lain, baik di sebelah kiri, kanan maupun depan dan belakang. Kondisi tersebut sedikit banyaknya telah mengubah perilaku manusia menjadi sedikit egois. Mereka semua ingin lepas dari jeratan lampu merah dan anti berhenti untuk yang keduakalinya.  Motorocco mengkompilasi beberapa kebiasaan pengendara di lampu merah sebagai berikut:

Berhenti tidak pada tempatnya

Bukankah setiap persimpangan yang ada lampu ‘traffic light’ sudah di lengkappi dengan garis batas atas jalur masing masing arah? Tentu saja jawabnya ‘ya.’ Hal ini untuk memastikan semua kendaraan baik roda dua maupun roda empat berhenti saat lampu merah menyala di antara garis yang sudah di tentukan. Bahkan, di beberapa lokasi sudah  disediakan ruang henti khusus (RHK) buat pengendara roda dua. Tapi memngingat populasi motor (roda dua) sudah melewati kapasitas jalan maka RHK tidak lagi cukup untuk menampung semua pemotor secara elegan. Motor motor tersebut biasanya bertebaran hingga diluar jalur yang akhirnya menutupi arus dari depan.

Di bagian kiripun sama saja; jalur yang seyogyanya untuk kendaraan belok kiri jalan terus pun tidak luput dari hambatan kendaraan lain yang berhenti karena lampu merah. Mau tidak mau merek yang mestinya jalan terus kalau belok kiri akhirnya turut serta berhenti. Pelanggaran ini lebih banyak di lakukan oleh pengendara motor.

Start yang buruk; curi start

Pernah nonton balapan? Yaa…motoGP contohnya? Semua pembalap biasanya sudah menempati gridnya masing masing sesuai urutan yang didapat saat kualifikasi. Setelah melakukan warming lap mereka akan berhenti di tempat yang sama untuk memulai balapan. Pertama tama lampu merah akan menyala mulai dari dua lampu, empat, enam dan sepuluh. Baru kemudian semua lampu hijau menggantikan sebagai tanda pembalap boleh mulai memacu motornya.

Begitu juga di jalanan kota; ketika lampu merah mulai mati maka akan di gantikan dengan lampu kuning pertanda untuk bersiap siap. Baru kemudaian lampu hijau yang artinya pengendara boleh memacu kendaraannya. Akan tetapi, fakta berkata lain. Kerap kita temukan bahwa beberapa pengendara mulai memacu kendaraannya saat lampu merah belum mati, atau paling tidak tinggal beberapa detik lagi baru mati. Sebagian pengendara lainnya akan mengikuti di belakang. Sebagian juga akan menunggu paling tidak lampu kuning menyala dulu.

Kecurangan curi start seperti ini sudah lumrah di tanah air. Pun demikian, belum pernah terdengar ada tindakan dari pihak berwajib untuk mentertibak pelanggaran minor ini. Mungkin inilah salah satu alasannya kenapa pembalap Indonesia kurang berprestasi di kancah internasional. Kena penalti terus.

Beep….beeep….preeeeng

Klakson merupakan salah satu faktor yang paling menyebalkan. Sebenarnya fitur ini di gunakan hanya dalam situasi darurat untuk memberi peringatan pengguna jalan lain agar lebih hati hati atas kehadiran si pengguna klakson tadi. Khususnya di Bali, klakson kerap digunakan di tikungan yang konon angker sebagai pertanda ucapan ‘permisi’ mau numpang lewat. Atau juga ketika melewati tempat tempat suci yaitu pura yang terletak di pinggir jalan. Hal tersebut sangat bisa di mengerti. Tapi jika klakson di gunakan di lampu merah ketika lampu hijau bahkan belum menyala, bukankah itu menyebalkan? Ketika lampu hijau menyala, tidak serta merta semua kendaraan bisa langsung melaju. Ada siklus yang harus di lalui. Ketika lampu hijau menyala maka kendaraan paling depan akan mulai melaju dan di ikuti oleh kendaraan di belakangnya dengan jeda aman antra 2 hinga 3 detik. Jeda tersebut terutama bagi mereka pengendara mobil karena tidak bisa melakukan manuver layaknya kendaraan roda dua. Jika anda berada di urutan ke sepuluh dari mobil paling depan maka anda akan mulai melaju di detik ke 20 dimana lampu hijau nyaris kedaluwarsa alias akan di gantikan lampu kuning dalam hitungan detik.

Di negara maju seperti contohnya Spanyol dan Australia, mereka melengkapi area tertentu pada ruas jalan dan lampu merah dengan kamera cctv. Setiap pelanggaran sekecil apapun maka akan dengan mudah untuk dideteksi yang kerap berakhir dengan tilang. Tidak salah akalu pengendara di negara tersebut lebih takut akan kamera tinimbang jalan berlubang. Perilaku tersebut di atas mengindikasikan bahwa pengendara di tanah air tidak sabar kurang memperhatikan fungsi rambu lalulintas dengan benar. Apakah anda termasuk pada kebiasaan diatas? Hayooo…ngaku!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s