Super Nyaman Supermoto

D-Tracker 150 2013

Motor jenis ini merupakan motor idaman sejak masih di SMU. Sudah banyak kliping yang berkaitan dengan tunggangan ini terkumpulkan sebagai referensi modifikasi di kemudian hari sampai akhirnya Kawazaki mengambil inisiatif untuk merilis model ini beberapa tahun kemudian. Ironisnya, bukan di modif sesuai referensi kliping, motor yang di tebus pada akhir 2013 kemarin tetap di biarkan dalam kondisi apa adanya alias standar.

DSC_0761

Kesan pertama nyemplak tunggangan macho ini sangat luar biasa, serasa siap pergi kemana saja tanpa rintangan berarti. Posisi spakbor depan belakang yang jangkung dan ground clearance yang tinggi merupakan ciri khas motor bergaya supermoto. Sayangnya ukurang ban bawaan pabrik yang cuma 14 inchi membuat saya terjebak di trotoar ketika berusaha menghindar dari kemacetan area Kerobokan, Bali. Trotoar yang rusak memberikan tantangan seolah menaiki tangga dengan ketinggian interval sekitar 30cm. Alhasil ban depan yang terkesan cebol ngambek ga mau manjat trotar. Kalau saja ada cukup lintasan buat sedikit wheelie maka akan beda ceritanya. Inilah yang menyebabkan sebagian besar penunggang D-Tracker langsung mengganti pelg ukuran 17 inchi.

Sampai saat ini saya sangat menikmati perjalanan dalam kota bersama DT150 karena sangat lincah bermanuver. Hanya saja kudu sedikit hati hati dengan late-braking karena motor ini belum dilengkapi fitur ABS dimana pengereman di kontrol secara elektronik. Khususnya saat grip tidak sempurna  di trek basah gejala skidding kerap muncul. Kecuali anda merupakan pemain lumpur yang terbiasa membuang buritan kesamping saat menekuk tikungan maka gejala skidding ini akan memberikan kesenangan tersendiri.

Di sektor mesin, tarikan motor ini terkesan garang di putaran bawah diimbangi pergantian gigi yang sangat halus. Satu hal yang ingin saya improve di kemudian hari adalah interval gigi 1, 2 dan 3 yang sangat dekat. Kurang nyaman untuk bermanuver di perkotaan karena kaki dan tangan akan sangat repot dengan perpindahan gigi. Tapi kalau di ajak bermanuver di medan ekstrim yang penuh tanjakan dan turunan maka interval tersebut sangat pas dan tenaga yang disemburkan juga sesuai kebutuhan, walaupun dalam kondisi boncengan. Mungkin inilah alasannya kenapa interval giginya dibikin sedemikian rupa. Wheelie dengan gigi 1 sudah pasti enteng diakukan dan saya tidak pernah memaksakan gigi 2 untuk ritual ini.

DSC_0849

Melalui turunan hingga 35 derajat secara random selama lebih kurang 20 menit memaksa kedua rem bekerja keras menahan bobot motor yang mencapai 150 kg ditambah bobot saya sendiri. Adrenalinpun terpacu lebih kencang ketika rem belakang sempat blong di pneghujung turunan. Saya memutuskan untuk tetap melaju dengan bantuan rem depan sampai menemukan lintasan yang landai untuk istirahat sejenak. Kelemahan ini juga yang belakangan banyak di keluhkan oleh tracker lain. Namun, piranti ini cukup di ganti dengan piringan yang memiliki lubang lebih banyak jadi pendinginan rem lebih cepat sehingga tidak akan mengalami kekosongan cengkraman. Masalahnya sederhana; piringan rem over-heating.

Sekembalinya ke Denpasar tentu saja saya melalui jalan yang sama. Beadnya, kali ini lintasannya berbalik menjadi pendakian yang terjal. Saatnya kedua rem beristirahat dan sebaliknya mesin bekerja keras untuk melewati bukit. Semuanya lancar dan bahkan pendakian jauh lebih cepat tinimbang penurunan. Kerja transmisi konstan di antara 1 sampai 3 aja. Tidak ada celah untuk masuk ke gigi 4 karena memang sangat minim lintasan yang landai.

rasanya seolah baru memenangi seri adventure setelah berhasil melewati bukit terjal tadi. Kini saya di hadapkan dengan jalan minim tikungan dan sedikit menurun. Trek seperti ini memancing saya untuk bejek gas hingga mentok untuk mendapatkan top speed yang sering jadi bahan perbincangan. Alhasil, kecepatan mentok di 103 km/jam saja. Tak ayal kalau sering di salip MX-135 yang notabene mentok di 115 km/jam. Memang tidak adil kalau membandingkan DT150 dengan motor lain yang beda kelas. Tapi melihat tampang macho motor ini sudah cukup membuat mereka jiper dan kudu sedikit hati hati memancing adu sprint.

Photo courtesy: kawazaki motor
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s